Islam Peradaban

Dua Kebodohan Pluralisme

Saya hanya mengutip dari buku Dr. Adian Husaini (INSIST) yang berjudul Pluralisme Agama Haram. Buku ini saya beli ketika pameran buku “Pekan Buku Jakarta”. Dua kebodohan ini saya kutip dari Anis Malik Thoha, PhD (Kata sambutan)

Pluralisme agama memiliki sejumlah kelemahan mendasar :
1. Kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleran karena menafikan “Kebenaran Ekslusif” sebuah agama. Mereka menafikan klaim “Paling Benar Sendiri” dalam suatu agama, tapi justru faktanya “kaum pluralis”-lah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statemen keagamaan (religious statemen). Patut dicatat, bahwa “any statemen about religion is religious statemen.” Para penganut pluralis tampaknya tidak sadar.

2. Adanya “Pemaksaan” nilai-nilai budaya Barat (westernisasi), terhadap negara-negara dibelahan dunia bagian timur, dengan berbagai bentuk dan cara, dari embargo ekonomi sampai penggunaan senjata dan pengerahan militer secara besar-besaran seperti yang menimpa irak dan afghanistan saat ini. jadi, sebenarnya mereka tidak toleran. Mereka merelatifkan tuhan-tuhan yang dianggap absolut oleh kelompok-kelompok lain seperti Allah, Trinitas, Yahweh, Trimurti, dan lain sebagainya. Namun disaat yang sama, “secara tanpa sadar” mereka juga mengklaim bahwa hanya tuhan mereka sendiri yang absolut.

Tuhan yang absolut menurut mereka ini namanya, seperti yang diusulkan John Hick, adalah “The Real” yang kebetulan ia dapatkan padanan katanya dalam tradisi islam sebagai “Al Haq.” Tapi anehnya, Hick menolak “Al-Haq” ini sebagai “The Real” an sich atau yang sebenarnya, hanya dengan alasan bahwa “Al Haq” telah mengalami proses akulturasi konseptual dalam kultur dan tradisi tertentu, yaitu islam.

Sehingga menurutnya “Al Haq” tidak beda dengan konsep-konsep tuhan impersonal dalam tradisi-tradisi lain, seperti nirguna brahma dalam hiduisme, En soph dalam yudaisme kaballah, dan Godhead dalam mistik kristen. jadi, menurut john hick, nama-nama tuhan (baik personal maupun impersonal) dalam berbagai agama dan trardisi hanyalah sebagai bentuk-bentuk manifestasi dari “The Real” ini. Oleh karena itu, semuanya adalah “relatif” alias tidak “absolut”. Dengan demikian, semua orang harus mengimani dan menyembah tuhannya john hick ini. jadi pada hakikatnya, tanpa sadar mereka telah membangun absolutismenya sendiri. Disini, bisa dikatakan, alih-alih jadi wasit, kaum pluralis malah terseret jadi pemain yang saling berkompetisi dilapangan. Jadi, pemikiran pluralisme agama itu sangat sarat dengan self-inconsistency, double standard, dan distortion.

Advertisements

3 thoughts on “Dua Kebodohan Pluralisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s